Berjalan di atas manhaj as salafush sholeh.. Al-'ILmu Qablal Qauli wal 'amal ......العلم قبل القول والعمل
Tampilkan postingan dengan label Risalah : Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risalah : Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Oktober 2012

Perhatian Syariat Islam Terhadap Janin

Dalam Mukhtârus Shihâh, pengertian janin (al-janîn) adalah al-waladu mâ dâma fil bathn (anak selama masih dalam kandungan ibunya).[1] Disebut janin karena masih tidak terlihat dan tersembunyi.[2] Pengertian senada juga tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang menyebutkan pengertian bakal bayi (masih dalam kandungan).[3] Janin sebagai bakal calon manusia pun menerima bagian perhatian tersendiri dalam syariat Islam yang sempurna, sejak pertama kali menunjukkan tanda-tanda kehidupan di rahim sang ibu. Meski belum terlahir di alam dunia, Islam telah menaruh perhatian kepadanya. Berikut ini beberapa aspek perhatian Islam kepada janin.

Agar Buah Hati Menjadi Penyejuk Hati

Oleh
Ustadz Abdullâh bin Taslîm al-Buthoni


Kehadiran sang buah hati dalam sebuah rumah tangga bisa diibaratkan seperti keberadaan bintang di malam hari yang merupakan hiasan bagi langit. Demikian pula arti keberadaan seorang anak bagi pasutri, sebagai perhiasan dalam kehidupan dunia. Ini berarti, kehidupan rumah tangga tanpa anak, akan terasa hampa dan suram.

Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak

Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar, dan termasuk mengkhianati amanah Allah.

Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat.

Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pedidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototipe kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

Selasa, 02 Oktober 2012

Bagaimana Mencintai Buah Hati Anda?

Oleh
Al Maghribi bin As Sayyid Mahmud Al Maghrib


SIKAP SEIMBANG DALAM MENCINTAI ANAK
Cinta kepada buah hati adalah fitrah manusia yang dibenarkan syari’at. Orang tua sewajibnya menempatkan cinta dan kasih sayangnya kepada anak secara benar. Sebab anak adalah amanah bagi orang tua. Mengekspresikan cinta kepada anak melalui didikan dan arahan yang benar, sebagai tindakan bijaksana dari orang tua yang betul-betul memahami hakikat cinta kepada anak. Membimbingnya agar tumbuh menjadi generasi yang lurus dan tangguh, mampu mengemban tugas-tugasnya sebagai hamba Allah dan sebagai bagian dari masyarakat. Sehingga mustahil dapat membimbing mereka dengan arahan dan didikan yang benar, jika kita tidak memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Di sisi lain, tidak sedikit orang tua yang keliru mengejewantahkan rasa cinta dan kasih sayangnya sehingga justru melahirkan sikap manja, pengecut dan sederet sikap tercela lainnya pada anak. Hingga membuahkan petaka dan penyesalan di penghujungnya. Lalu bagaimanakah wujud cinta kita yang benar kepada anak?

Buah Hati, Antara Perhiasan Dan Ujian Keimanan

Oleh
Al Maghribi bin As Sayyid Mahmud Al Maghrib


ANAK SEBAGAI PERHIASAN DUNIA
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada manusia pilihan Muhammad Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sahabat keluarga dan para pengikutnya dengan baik hingga hari akhir.

Jauhi Nama-Nama Orang Kafir Bagi Buah Hati Anda

Oleh
Ustadz Muhammad 'Ashim:


Ada sebagian orang tua di kalangan kaum Muslimin menamai anak-anaknya dengan nama-nama orang-orang Barat (baca: orang kafir). Bisa jadi, lantaran sang orang tua itu terpesona dengan tokoh yang hebat dari kalangan mereka, atau karena popularitas sang tokoh. Atau bisa jadi sekedar mengikuti trend, atau alasan lainnya yang tidak jelas. Misalnya dengan menyematkan nama pemain bola, artis, atau tokoh lainnya bagi anaknya.